#15 Perjalanan

Kartika adalah sebuah nama yang disematkan kepada seorang wanita yang lahir pada hari itu, tanggal dan tahun sekian di kota tersebut. Ia sudah cukup manis sesaat udara pertama bersinggungan dengan kulitnya yang masih ringkih. Lalu ia tumbuh besar dengan berteman dinding dan bunga pada taman milik tetangganya. Mungkin ada beberapa semut yang ia beri nama.

.

Setelah dewasa, Kartika mulai dirindu oleh pujangga pujangga amatir yang hidupnya terlalu lama menonton telenovela sehingga buaiannya terlalu mendayu dayu. Adalah dunia yang kemudian ditemukan oleh Kartika, membawanya bertemu dengan pria yang dikiranya adalah jodohnya. Padahal ia bukan rumah, mungkin hanya sekedar teduh.

.

Hujan selalu datang dan selesai dengan indah. Seperti namanya, Kartika. Tidak ada yang diujar berkali kali dan hanya namanya yang mulai ditenun pada kain yang sederhana bernama doa. Padahal kartika mulai menjelma menjadi air ditengah padang gurun yang luas. Dan pria tadi, hanyalah kaktus yang egois menyimpan untuk dirinya. Padahal sang unta kehausan, sang domba sudah tak bernyawa. Oh, Kartika.

#14

adalah angin senja yang menamakan dirinya rindu. lalu diufuk barat, ia tenggelam menjadi malam. Kartika, tidak ada lagi senja disini. sudah berganti hujan bintang dan decakan ilalang yang berdoa agar esok tidak mendung.

#13

Engkau yang bagai deras hujan turun begitu deras. dioramaku masih memutar lagu sendu yang masih berisi sajak sajak pengharapan. rindu sudah bukan terlalu dalam, ia membekas. dan sekarang sudah berada dalam tahap bayangmu yang kurindu. ah, aku lupa. hanya bayangmu yang bisa kujamah.

#12 Parasmu, Kartika.

Seketika parasmu menjadi objek yang selalu ingin kuajak bercengkrama. dalam benakku, kau hanya tersenyum mengangguk pada tiap bait diksiku. sungguh aku ingin kau menjadi nyata. namun aku takut ini bukan jalan terbaik. kau hanyalah penghuni tiap sudut aksara yang selalu kurangkai indah. Kartika, doaku benar benar kuucapkan. tentang sebait namamu.

#Bonus

Pahamilah.

tidak semua badut ingin selalu menampilkan topeng yang seperti bahagia itu. kadangkala ia juga ingin berbagi tentang duka dan luka.

tidak semua pria atau wanita yang sedang berjuang tak mengenal lelah. kadangkala mereka ingin berhenti sejenak, atau ada yang berhenti lagi sesudahnya.

tidak semua bahagia ingin tertawa dan riang yang ramai. kadangkala bahagia juga ingin sendiri, duduk sejenak di suatu tempat yang nyaman sekedar mencicipi aroma pahit kopi dan membaca hingga larut.

pahamilah, bahwa akupun kadang ingin berhenti mengejarmu.

#11

lihat langkahku, Kartika. goyah. bagaimana kau bisa begitu kuat jatuh lalu seketika bangkit? jalanmu begitu ringan seperti hanya manis yang kau kecap. sedang aku pahit, mungkin juga getir. degupku terasa berat sekali, hilang sudah tenang yang kau ajarkan. Kartika, apa kabarmu? maaf kalau ucapku menyentuhmu saat badai ini. entah manalagi tempat yang ingin kudatangi malam ini. hanya kau, lalu sudah.

#10 Jika saja, Kartika

Jika saja, senja meniupkan namamu semudah bergantinya musim. lalu ada pria yang rindu, menunggu di seluruh ufuk barat untuk menangkap namamu. jika saja pria itu adalah aku, tetapi ternyata ombak lebih dulu membawakan kapal singgah yang lain. padahal ada aku didarat, termangu menunggu senja meniupkan namamu sekali lagi. saat itu Kartika, bahkan bayanganmu tidak akan lepas dari pandanganku.

#9

Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu walau sejenak. Tidak bisa pula terpejam, sebab senyummu merekah. Diantara bilur bilur hujan yang turun, ataukah pelangi. Diksiku hanya penuh tentangmu. Hanya penuh pengharapanku tentangmu. Seperti sudah terlalu letih untuk nyata, kuingin hidup dalam asa. Lalu engkau menguncup malu. Entah karena diterpa angin senja yang semilir atau gara gara aku yang mendayu. Lihatlah angkasa sekali lagi, Kartika. Langit tidak pernah hilang indahnya sekalipun malam tiba. Sekalipun dunia padam.

#8

Bahasaku terkadang berisi gumam gumam doa dan bait rindu untukmu, kartika. Secepat kilat sampai kelangit, dan entah kapan sampai ke telingamu. Kadang sirna oleh kilat yang bersahutan, atau kabut yang terlalu tebal sehingga tersesat ia sampai tak tentu arah. Aku ingin sekali egois, seluruh isi doaku kuganti dengan namamu, Kartika. Seluruh keinginanku adalah menjadi pundak yang diam diam ada saat kau butuh, seka yang diam diam terbit saat kau menangis, atau sekedar hadir saat kau sepi. Ini untukmu, Kartika.

#7

Lihat dan sadari gerakan ujung daun pada puncak tangkal yang mulai meranggas pada akhir musim semi ini. Ia adalah satu satunya yang bertahan, sama seperti diriku. Menunggu dirimu nyata. Lalu angin yang sebenarnya baik, ia menjatuhkanku dan membiarkan bumi memelukku erat hingga aku kering dan mati. Lalu terinjak oleh langkah gempita manusia yang sepertinya sedang berjalan lunglai karena sedih, dan setetes air mata rindu itu jatuh tepat diujung daun.